Laman

Minggu, 26 Januari 2014

Memperkuat Hukum Adat

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQNooRQi-qaGnQgGzuqCW7QhiERPdjR20eoYpcvkh3dh0CHxmNQpw
Dok. Google



Tatuntuang galamai jaguang, taunja-unja ka cambuang basi;
Bakarimuak urang di kampuang, dek ulah Lippo si James Riady
 

Beberapa waktu yang lalu saya sempat bergabung ke sebuah grup. Jujur saja saya lupa nama grupnya karena nama kepanjangan. Yang saya ingat adalah bahwa grup itu bergerak dan memobilisasi massa dalam rangka penolakan terhadap Siloam proyeknya Lippo Grup (LG) dengan Super Blok Lippo Grup (SBLG)nya. Saya hanya sebentar di situ karena saya butuh info soal kebenaran berita di kampung.

Saya ini kan perantauan, jadi tidak tahu pasti apa yang terjadi. Beberapa orang memang mengkisiki saya soal proyek itu, tapi itu kan info sepihak. Maka bersyukurlah saya ketika seorang adek, Wen, mencemplungkan saya ke grup itu.
Tapi saya hanya sebentar bergabung. Sejujurnya nurani saya kurang nyaman meski saya sangat sepakat dengan pendapat mereka dalam menolak Siloamnya Lippo Grup. 


Saya ini orang Minang asli, lahir dan besar di Ranah Minang, jadi saya tahu tabi'at dan garenah mereka, rata-rata orang Minang itu seperti apa.

Jumat, 17 Januari 2014

Madu Asli yang Memancing Air Mata

  Madu asli itu adalah yang apabila ia dibawa pulang ke rumah maka istri di rumah akan mengamuk-ngamuk, atau membanting peralatan dapur atau meninju-ninju dadanya, atau menjambak-jambak rambutnya, atau mungkin menangis sesegukan bahkan meraung-raung.


Siapa yang belum kenal madu? Siapa yang tidak suka madu? Atau siapakah yang belum tahu khasiat madu? Saking istimewanya bahkan nama  hewan yang memproduksi madu namanya diabadikan menjadi nama sebuah surat dalam Al Qur-an, An-Nahl.
sumber: http://info-peternakan.blogspot.com

Saya tidak sedang ingin menceritakan surat An-Nahl (lebah), namun saya sedang ingin berbagi cerita tentang defenisi madu asli.


Madu Asli
 
Selama ini saya berfikir bahwa madu asli itu adalah madu lebah yang tidak tercampur dengan zat-zat lain.
Dulu, di masa kanak-kanak saya, karena seringnya melihat orang-orang yang mencari madu liar dari pohon ke pohon, saya jadi berfikir bahwa madu asli itu adalah madu yang diturunkan dari pohon, tanpa campuran sedikitpun. 

Rabu, 15 Januari 2014

Walau Terlihat Kecil, Tapi Tak Ada yang Sia-sia

 "Bukankah besar dan kecil itu tergantung bagaimana kita memandangnya?"


Gadisku sudah 11 tahun, sudah pasti dah bisa membaca dong? Alhamdulillah.
Tapi saya tidak pernah menolak ketika ia meminta saya untuk membacakan buku, kecuali untuk alasan2 yang urgen tentu saja.

Kami juga rutin ke tokbuk sebulan sekali dan ia juga boleh membaca pulang buku cerita seperti adik2nya, ia tetap punya hak untuk itu.
P
ada hari2 libur sekolah seperti Jumat sore, Sabtu dan Minggu, saya juga membiarkannya membaca sepuasnya buku yang ia inginkan meski itu sedang musim ujian. Saya anggap itu bagian dari refreshing.
Gadisku, Aisyah
Dan saya juga tidak marah dan menyuruhnya membaca sendiri atau belajar ketika ia bergabung dengan 2 adiknya tatkala saya membacakan cerita untuk 2 krucil itu.

Sekarang...
Meski buahnya belum banyak, tapi saya sudah menikmatinya.
Hampir tiap malam di hari2 belakangan ini, adik kecilnya terlelap di sampingnya, berdesakan di tempat tidur yang cuma bisa untuk satu orang. Itu karena si adik kecil selalu minta didongengin (bercerita tanpa buku) sebelum tidur.

Selasa, 14 Januari 2014

Lakukanlah Jika Kita Bisa Melakukan Perbaikan

Al Qur-anul Kariim (foto supercicak.blogspot.com)


Ketika kita memiliki kekuasaan, kekuatan atau pengaruh, kenapa kita harus menunjukkan diri kita yang sesungguhnya (dalam batas-batas yang dibolehkan)?
Karena menurut hemat saya inilah kesempatan untuk memberikan pengaruh kita kepada orang lain. Untuk menunjukkan diri kita yang sesungguhnya. Apapun itu, kondisi sudah jauh lebih kondusif untuk ber-Islam sekarang.
Bukankah sudah sampai kepada kita bahwa jika kita memiliki kekuatan maka ubahlah kemungkaran itu dengan kekuatan, jika kita mampu berkata-kata maka maksimalkanlah potensi kita dan baru kemudian baru jatuh kepada selemah-lemah iman? (alhadits)

Lihatlah kasus pernikahan Oki dan Rio kemaren itu. Saya sedikit berharap setelah ini pemisahan tamu laki-laki dan perempuan dalam pesta pernikahan bukan lagi menjadi sesuatu yang aneh.

Rabu, 18 September 2013

Syukurilah Apa yang Ada



Saya dulu pernah merasa hampa dengan pernikahan ini. Sehingga saya sering tersenyum geli ketika mendengar betapa orang-orang berharap untuk segera menikah. Lucu sekali, betapa mereka berharap terikat, semantara saya sendiri berharap bisa terbang bebas, begitu dulu pola pikir saya.


Saya menikah karena orang tua ingin saya segera menikah. Kalau boleh jujur, saya belum ingin menikah kala itu. Saya terpesona ketika Bapak sumringah kala lelaki sholeh itu datang. Betapa beliau tidak akan berbahagia, saya belum pernah sekalipun berpacaran. Meski berkali-kali saya menjelaskan, bahwa saya tidak akan pernah berpacaran, tapi beliau berdua tak mengerti juga. 
Menurut orang tua, saya ini ‘mengerikan’ di mata lelaki, buktinya sampai saya 24 tahun,

Kematian Itu Membawa Hidayah



Tak sedikitpun saya menyangka, akan ada sisi positif dari kematian yang menyakitkan itu. Karena berhari-hari hingga berminggu-minggu bahkan bertahun kemudian luka itu masih menganga. Meski berduka dalam diam, tapi saya tahu, tak sepenuhnya kami bisa menerimanya. Selalu saja ada nada-nada tak puas, selalu saja.


21 tahun yang lalu, Jum’at siang menjelang waktu jum’atan.
Suasana di rumah benar-benar mencekam. Seakan-akan ada alarm, bersiap-siaplah, akan ada kematian menghampiri.
Sebenarnya hawa tak menyenangkan itu sudah terasa dari semenjak pagi, ketika kami semua yang masih duduk di bangku sekolah tiba-tiba mendengar raungan Bapak. Itulah kali pertama saya tidak menyukai kaum lelaki menangis. Usut punya usut ternyata kakak sulung kami sudah tidak bisa lagi menelan nasi, bahkan meneguk air walau cuma seteguk. Kami semua tercenung, saling berpandangan dalam diam.
“Sudah...sudah, ayo semuanya berangkat sekolah”, Bapak memberi instruksi. “Sepulang sekolah langsung pulang ya, jangan mampir sana sini”. Bapak menambahkan instruksinya.

Kamis, 01 Agustus 2013

Rindu Ini, Rindu Hutan


 
Tak pernah terpikirkan bahwa akan ada masanya saya benar-benar merindukan ‘hutan’ (tumbuh-tumbuhan yang sangat banyak), mengingat saya ini adalah orang kampung, orang yang terbiasa meniti pematang sawah, berlarian di bebatuan sungai, bermain ayunan di pohon kelapa tumbang yang melintang di tengah sungai, dan setiap hari merasakan sejuknya hehijauan.
Kenapa?
Ternyata, menikah, hijrah dan berpisah dari orang tua, berarti meninggalkan semua suasana ini. Dan itu kini telah terangkai menjadi rindu.

Maharatu, Marpoyan Damai, Pekanbaru, Riau
          “Abi mau kemana?” Hamzahku menangis ketika taxi berhenti di depan rumah. Saya tersenyum geli, padahal tadi sudah dijelaskan bahwa Abinya akan ke Jogja beberapa hari, ada test untuk masuk sekolah lagi. Lelaki kecilku, 5,1 tahun kala itu, berlari sambil menangis ke pelukan Abinya. 

Selasa, 23 Juli 2013

Pilunya Suasana Ramadhan di Lingkungan Sekolah Anakku



Kemaren siang waktu bubaran sekolah, di pagi menjelang siang, semakin banyak saja anak-anak yang berseragam merah putih duduk-duduk di kedai makanan di depan sekolahan. Kedai-kedai itu masih satu lingkungan (komplek) dengan sekolah. Saya hanya melihatnya dari jauh, nelangsa. Dan membawa anak-anak saya kabur dari pemandangan itu secepatnya. Pilu.
Salah persepsikah saya?


          Perkenalkan, saya ini orang Minang, sebuah suku yang menganut prinsip Adat Bersandi Syarak, Syarak Bersandi KitabuLlah. Saya lahir dan besar di ranah Minang, satu-satunya kesempatan saya merambah ranah orang lain adalah ketika saya menikah  hampir 13 tahun yang lalu. 

Meski kondisi alam Minang Kabau terkadang juga jauh dari kondisi Islami, namun ada beberapa poin yang sulit diabaikan, diantaranya adalah bahwa setiap orang di ranah Minang, baik muslim atau bukan, ada kewajiban tidak tertulis untuk menghormati orang berpuasa. Sehingga ketika Ramadhan menjelang, bisa dipastikan suasana puasa akan kental terasa. Jika ada para pedagang yang nekat mengais rezki di siang hari di bulan ini, maka akan ada aturan-aturan yang mengikatnya. 

Jumat, 12 Juli 2013

Sorban Putih Bapakku



Alhamdulillah, di usia 9 tahun saya dulu, saya sudah memantapkan pikiran untuk tidak berpacaran dan berfikir bahwa pacaran sebelum menikah itu adalah perbuatan sia-sia.
(Alm) Bapak saya memakai metode dialog dan analisa studi kasus untuk saya, dan itu efektif. Tapi sayang tidak efektif untuk saudara-saudara saya yang lainnya.
Ini bisa dimaklumi, karena ternyata memang beda anak, akan berbeda tipikal dan karakternya dan sudah tentu akan berbeda pula pola pendekatannya. Inilah cerita itu, cerita yang takkan mungkin ku lupa seumur hidupku...

***
"Kalian tau apa ini?" Bapak bertanya sambil memegang sorban putih di tangannya.
Kami semua, berenam bersaudara menjawab bahwa itu adalah sorban.
"Kalian tau apa yang akan terjadi jika sorban ini kalian lumurkan dengan lumpur?"
"Tentu saja sorban itu akan kotor," saya menjawab dengan lantang. Pandangan mata beliau beralih ke saya. Entahlah saya tak tahu kenapa, apa karena saya satu-satunya anak yang berani menatap mata beliau ketika berbicara ataukah karena saya adalah anak yang tanpa rasa takut ketika berbicara dengan beliau?

Sia Kau, Matilah Kau



Benar kata pepatah,"Sepandai-pandai tupai melompat sekali waktu kan terjatuh jua." Dan itulah yang terjadi pada saya...:(
Selama ini saya cukup sopan menanggapi sms, meski itu dari orang yang tidak saya kenal. Tapi pernah suatu ketika saya kecele, akibat kekesalan yang menginginkan pelampiasan. Jadilah sebuah sms tanpa prembule menjadi tempat pelampiasan saya. Malangnya..., astaghfiruLlah, ternyata sms salah sambung dari seseorang yang menyimpan nomer saya.
***
Sesore kemaren dulu itu saya bener-bener kesel akan banyak hal. Sms masuk ke hp saya ketika saya separuh terlelap kala meninabobokkan gadis cilik saya. Isinya menurut hemat saya tidak perlu untuk saya pertimbangkan, karena alamat dan isinya ditujukan bukan untuk saya. 

Jumat, 05 Juli 2013

Itu Belum Seberapa, Masih Ada yang Lebih Parah



repost dari sebuah postingan yang terhapus tanpa sengaja.
          Jum’at sore itu anak perempuan saya pulang tidak di waktu biasanya. Sore itu ia pulang pukul 4 sore kurang beberapa menit. Saya dan Abinya sudah cemas menunggu di teras rumah. Biasanya ia pulang ke rumah paling lambat pukul 3.15 sore. Kami masih menunggu dan memberi jeda beberapa menit lagi sebelum memutuskan untuk menelpon driver sekolahnya.
Anak-anak kala itu memang saya ikutkan antar jemput sekolah. Karena sebagai orang baru di kota SMG, saya belum begitu mengenal medan. Di tambah lagi Abinya anak-anak ada kelas magister di setiap malamnya. Anak saya 2 orang yang sudah SD, dan dua-duanya sebenarnya tidak begitu suka naik antar jemput. Seringkali mereka berdua mengajukan proposal agar Abinyalah yang mengantar ke sekolah dan saya  yang menjemput sepulangnya.

Nelangsakah Emak-ku?

Coba renungkan, pernahkah ibu kita memiliki pikiran dan perasaan seperti ini?
 
          Dalam perjalanan saya yang baru 37 tahun lebih, saya pernah bertemu seorang ibu. Terus terang ibu itu sering curhat ke saya tentang anak-anaknya. Entah kenapa, mungkin karena saya bisa jadi teman ngobrolnya ataukah karena penampilan luar saya persis sama seperti anaknya yang jauh di rantau sana. 
Setiap ibu itu curhat sebenarnya saya bisa langsung tahu arah pembicaraannya. Sudah bisa dipastikan, takkan jauh-jauh dari masalahnya dengan anak-anaknya. Sekalipun di awal-awal kami akan bercerita yang lain, tapi ujung-ujungnya si ibu akan menyempatkan curhat.

         

Minggu, 02 Juni 2013

Perempuan Selalu Menarik, Bahkan Yang Berjilbab Besar



          Sebuah kejutan di akhir Maret lalu datang dari orang nomor 1 di Jawa Tengah, Gubernur Bibit Waluyo. Himbauannya tentang pelarangan berjilbab besar di lingkungan rumah sakit. Barangkali banyak dari kita yang ternganga mendengarnya, tapi juga ada kemungkinan banyak kita yang malah tidak tahu sama sekali. Kebijakan ini membuat kita berfikir betapa perempuan makin memiliki nilai jual tinggi di setiap sudutnya. Bahkan perempuan berjilbab besar yang seringkali dipandang sebelah mata pun memiliki nilai tersendiri. Ada sesuatu di diri mereka para perempuan yang seringkali bisa menyibukkan para pengambil kebijakan, yang pada umumnya kaum lelaki untuk membuat sebuah himbauan atau peraturan bahkan pelarangan. Faktanya, betapa perempuan masih sangat menarik untuk dibahas, terlepas dari itu popular atau tidak. 

Senin, 13 Mei 2013

Memberi Teguran / Nasehat - 2



Tidak mudah memang untuk memberikan teguran/nasehat kepada seseorang. Selain dibutuhkan niat yang ikhlas dan keberanian, strategi juga tidak kalah pentingnya. Jika yang memberikan teguran/nasehat tidak memperhatikan strategi, seringkali menegur menjadi tidak mengenakkan, baik untuk yang menegur maupun yang ditegur. Seperti menimbulkan kebencian, permusuhan dan merusak hubungan baik.
Setelah mengetahui kendala dalam memberi nasehat / teguran, ada banyak hal lain yang perlu kita perhatikan.

Hal2 yang Perlu Diperhatikan Dalam Menegur 

pertama; Luruskan Niat

Tanyakan ke diri kita, apakah kita ikhlas melakukan teguran ini? Apakah karena kita peduli dengan kebaikannya? Ataukah kita hanya ingin pamer kepandaian? Unjuk kebolehan? Percayalah niat kita akan berpengaruh cukup besar terhadap proses penjagaan ini. Orang bijak bilang, sesuatu yang datang dari hati biasanya tempat jatuhnya adalah hati.

Minggu, 12 Mei 2013

Memberi Teguran/ Nasehat- 1


Lihatlah, maksiat makin marak sekarang. Penyebabnya bermacam. Mulai dari arus informasi yang demikian menggila, yang ‘tak sempat lagi’ untuk difilter oleh penyelenggara informasi, hingga kebiasaan permisif masyarakat terhadap hal-hal yang tadinya dianggap tabu. Bahkan maksiat semakin menjadi-jadi karena fungsi kontrol yang makin melemah. Ketidakpedulian dan sikap masa bodoh kita sebagai bagian masyarakat, juga turut andil dalam memicu maraknya maksiat. Padahal kita ini seperti satu tubuh, lho. Bagaimana mungkin bagian tubuh yang lain tidak merasakan efek negatifnya ketika bagian tubuhnya yang lain sedang menenggak racun dan perlahan-lahan menuju kematiannya?

Jangan pernah berfikir bahwa maksiat yang dilakukan oleh orang lain sekalipun bukan berada di sekitar kita, tidak akan berpengaruh terhadap jiwa kita. Meski tidak membuat kita ikut bermaksiat tetapi ia akan membentuk kita menjadi orang yang tidak peduli ketika kita hanya tahu kesholehan diri sendiri. Menjadi sholeh itu baik tapi terlibat dalam menyolehkan masyarakat itu akan lebih baik lagi.

Sabtu, 27 April 2013

Hadiah Pemuncaknya : Kisah Para Sahabat Nabi


Mendapatkan paket buku Kisah Para Sahabat Nabi ini, sesuatu banget buat saya. Bagaimana tidak, tujuan awal saya untuk ikut event Beautiful Story: Me, Books and My Kids ini adalah untuk menjaga hubungan baik saya dengan Ukhti Nova Yanti. Ukhti yang belakangan saya panggil Tek Nova Yanti ini adalah pemilik Amany Books di Payakumbuh Sumatera Barat, dengan lapak jualannya di www.amanybooks.com .

Kami belum pernah bertemu sekalipun, hanya berteman di DuMay; Dunia Maya, tepatnya di facebook. Saya mengonfirmasi pertemanan juga dengan pertimbangan mutual friends. Tapi setelah beberapa waktu melihat postingannya, saya merasakan chemistry; yes, she is my sister now.
Kemudian muncullah postingannya tentang event ini. Tadinya saya cuekin ya, bukan apa-apa, saya merasa ‘tidak bisa’ menulis. Saya memang suka memosting buah pikiran saya di facebook, tapi hanya sebatas itu. Namun ketika Tek Nova Yanti ini mengatakan “ayo, kirim ceritanya, kita nyari cerita kok, bukan nyari penulis handal” semangat saya menggebu. Saya punya cerita dan saya bukan penulis, sip dah. 


Mulailah saya merancang cerita apa yang akan saya kirimkan. Bukannya sok ya, kalau soal buku saya punya beberapa cerita, baik itu terkait suami atau bahkan terkait anak. Saya selalu merasa membeli buku itu tidak merugikan, namun suami saya bilang buat apa beli buku kalau tidak dibaca? Bahkan saya pernah diam-diam membeli 1 set buku untuk anak, saya cicil mengeluarkannya. Kami sering berbeda pendapat soal ini, hingga akhirnya suami saya mengalah. Sedangkan anak-anak saya senang sekali setiap kali saya hadiahi buku, atau saya ajak jajan ke toko buku.

Rabu, 24 April 2013

Terinfeksi Virus 4L@Y, Berdosakah?


Saya suka pening ketika membaca postingan salah satu teman lama saya di face book. Bukan apa-apa, banyak sekali singkatan-singkatan kata yang membuat kening saya berkerut. Gaul banget. Pengen sih saya mengabaikannya, tapi yang namanya postingan teman ya, pasti muncul di laman kita. Satu-satunya jalan agar saya tidak melihat postingan itu selain mendeletnya, ya menonaktifkan akunnya dari tempat saya di bagian pengaturan. 
Tapi yang namanya teman lama ya, pasti saya tidak tega. Mana dianya suka chatt pula sama saya. Alhasil jalan yang saya tempuh adalah menegurnya, dengan pola pendekatan bahwa sebagai teacher semestinya dia belajar menempatkan diri, sepantasnya. Kan di draft pertemanannya banyak sekali siswa-siswanya. Apa tidak khawatir bakal diremehkan siswa? Begitu pendekatan saya. Dan memberikan referensi tentang bahasan alay yang waktu itu dikupas Nina Muthmainnah Armando di majalah Ummi 2011.

Sumber Google

Pengertian Alay Alay itu apakah? Mengertikah kita dengan pengertian Alay? 

Selasa, 23 April 2013

Sekali Merengkuh Dayung di Celebrating Journey to Motherhood


Minggu tanggal 14 April kemarin sebenarnya adalah hari yang saya tunggu-tunggu. Seminggu sebelumnya saya sudah mempersiapkan diri untuk mengisi akhir minggu di tanggal tersebut. Segala sesuatunya sudah saya rancang. Saya ngebet banget pengen gabung di kopdar IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) Semarang, yang rencana awal dilaksanakan di rumah Mbak Uniek Kasgarwati. Ini kopdar pertama saya, mana jadwalnya belajar ngeblog lagi. 

Persiapan terpenting itu adalah tentang 3 anak saya, bagaimana jika saya pergi mengisi akhir minggu, mereka dibawa atau ditinggal. Berhubung rumah Mbak Uniek-nya jauh di belakang Lotte Mart sana dan saya yang masih buta Semarang, rencana awal ketiga anak saya ditinggal dengan Abinya di rumah. 
Eh dipertengahan minggu menjelang hari-H ternyata anak mertua saya ada acara. Bagaimana ini? Gak mungkin dibawa dong, kan jauh, mana anak-anak saya pada ogah naik taxi kecuali si bungsu Fathimah. Dan tak mungkin pula ketiganya dibawa oleh anak mertua saya. Belum apa-apa, Beliaunya sudah cemas duluan. Hehehe mungkin membayangkan bakal menenteng 3 anak sekaligus, karena gak mungkin ditinggal bertiga saja di rumah, bukan? Sepertinya saya terpaksa ngalah nih, demi anak, mau bagaimana lagi.

Minggu, 21 April 2013

Dialog Tuhan dan Haji Saleh yang Seorang WNI, dalam Robohnya Surau Kami, karya A.A. Navis

“’Pada suatu waktu,’ kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan ALlah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah di mana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia dinamai Haji Saleh. Haji Saleh itu senyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan dimasukkan ke surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang-orang yang masuk surga, ia melambaikan tangannya, seolah-olah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.
‘Engkau?’

Minggu, 07 April 2013

Bertanggung jawab = Berjuang Mempertahankan Pernikahan

Bagaimana kondisi pernikahanmu sekarang, kawan? Apa semuanya baik-baik saja? Adakah ombak gelombang yang menggoyang perahumu? Seberapa kuatkah itu? Ataukah itu hanya goyangan riak-riak kecil di perjalanan.

Pernahkah engkau merasa lelah dan berfikir untuk pensiun dini?
Sebelum engkau mengambil keputusan, coba simak kisah dari seorang temanku ini.
***
Orang bijak bilang, mengambil keputusan itu memang tidak mudah tetapi mempertahankannya (ternyata) jauh lebih tidak mudah.
     Dalam suatu perjalanan pada persinggahan di suatu tempat, saya pernah menemukan seorang wanita "hebat". Saya katakan hebat, karena jika saya yang mengalaminya belum tentu saya akan kuat bertahan. Sebut saja namanya si Ukhti. Si Ukhti ini ternyata menikah dengan "adek", hehehe ini istilah untuk pasangan yang lebih muda. Istilah anak sekarang bronies...si brondong manis,kita sebut saja dia si Lelaki.
Ketika menikah kondisi si Ukhti sudah mapan, alias sudah bisa menghidupi dirinya sendiri, Beliau dosen di salah satu PTS.
Dan si Lelaki adalah mahasiswanya sendiri. Namun ternyata pernikahan si Lelaki dengan si Ukhti ini tidak direstui keluarga laki-laki, ceritanya agak rumit. Intinya si Lelaki ini jika ingin berkunjung ke rumah istrinya harus diam-diam, dan begitu si Lelaki datang, rumah harus dalam kondisi remang-remang jika tidak bisa dikatakan gelap, karena ada saja mata-mata yang memberi tahu kakak si Lelaki yang seorang pengacara, yang selalu meneror si Ukhti.