“Bacalah”, guru ngajiku menyodorkan amplop
berwarna putih. Jantungku langsung berdetak kencang. Sekilas di sudut amplop
terbaca sebuah tulisan ‘Kel. Zainal Lain’. Hatiku langsung berkata, “inikah
saatnya?”
“Pelajari
dulu, kemudian bicarakan dengan orang tua. InsyaaLlah Sabtu di akhir minggu ini
ikhwannya datang ke sini.” Guru ngajiku menjelaskan sambil senyum-senyum. Saya
langsung melongo, akhir minggu? Yang benar saja, ini sudah hari Selasa, Sabtu
di akhir minggu itu berarti tinggal beberapa hari lagi.
Perasaan
saya sedikit gundah, teringat terakhir kali menyodorkan proposal jodoh ini
dengan emak saya. Saat itu beliau marah besar, tanpa alasan yang jelas. Usut punya
usut ternyata beliau khawatir saya menikah dengan laki-laki yang belum memiliki
pekerjaan tetap, apalagi jika hanya
lulusan (maaf ya) IAIN (sekarang namanya STAIN).