Laman

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Seks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Seks. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Februari 2015

Momen Yang Tepat Berbicara Sex Pada Anak

"Terbuka" bicara sex sama anak-anak, akan kita mulai pada usia anak berapakah?
Dua dari tiga yang sama miliki, telah berusia 9 th dan 12 th. Keduanya pada usia yang hampir berbarengan telah bertanya soal sex ini.
Momen valentine telah dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin merusak moral anak bangsa. Mereka telah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk program penghancuran ini.
Sementara kita sebagai orang tua masih jalan sendiri-sendiri, masih ogah untuk belajar dan masih ogah untuk berbicara apa itu sex kepada anak.
Bahkan bisa jadi anak-anak tahu tentang penis, vagina dan bersenggama (hubungan sex) malah dari teman-temannya.
Sama halnya dengan info berbagi kasih di hari valentine, info berbagi cinta pun bisa jadi telah sampai ke telinga anak dengan cara yang keliru dan tidak tepat.
Salah siapa ini?

Minggu, 16 Februari 2014

Surat Cinta Untuk Cintaku



Tak kunjung reda cemas ini sayang, setelah cerita kita di malam itu. Engkau baru 11 tahun dan masih kelas VI SD, tapi cerita yang kau bawa pulang membuat hati Ummi ketar-ketir.
Bahwa banyak teman sekelasmu sudah berani berpacaran. MasyaAllah, Nak, bagaimana Ummi bisa tenang setelah mendengar semua itu?
Tertarikkah engkau untuk melakukan hal yang sama, Nak?


Cintaku, Ummi hanya ingin mengatakan padamu, menyukai seseorang itu bukan dosa. Cinta adalah hal yang lumrah. Tidak perlu malu. Menyukai lawan jenis itu pertanda hormon di

Jumat, 12 Juli 2013

Sorban Putih Bapakku



Alhamdulillah, di usia 9 tahun saya dulu, saya sudah memantapkan pikiran untuk tidak berpacaran dan berfikir bahwa pacaran sebelum menikah itu adalah perbuatan sia-sia.
(Alm) Bapak saya memakai metode dialog dan analisa studi kasus untuk saya, dan itu efektif. Tapi sayang tidak efektif untuk saudara-saudara saya yang lainnya.
Ini bisa dimaklumi, karena ternyata memang beda anak, akan berbeda tipikal dan karakternya dan sudah tentu akan berbeda pula pola pendekatannya. Inilah cerita itu, cerita yang takkan mungkin ku lupa seumur hidupku...

***
"Kalian tau apa ini?" Bapak bertanya sambil memegang sorban putih di tangannya.
Kami semua, berenam bersaudara menjawab bahwa itu adalah sorban.
"Kalian tau apa yang akan terjadi jika sorban ini kalian lumurkan dengan lumpur?"
"Tentu saja sorban itu akan kotor," saya menjawab dengan lantang. Pandangan mata beliau beralih ke saya. Entahlah saya tak tahu kenapa, apa karena saya satu-satunya anak yang berani menatap mata beliau ketika berbicara ataukah karena saya adalah anak yang tanpa rasa takut ketika berbicara dengan beliau?

Jumat, 05 Juli 2013

Itu Belum Seberapa, Masih Ada yang Lebih Parah



repost dari sebuah postingan yang terhapus tanpa sengaja.
          Jum’at sore itu anak perempuan saya pulang tidak di waktu biasanya. Sore itu ia pulang pukul 4 sore kurang beberapa menit. Saya dan Abinya sudah cemas menunggu di teras rumah. Biasanya ia pulang ke rumah paling lambat pukul 3.15 sore. Kami masih menunggu dan memberi jeda beberapa menit lagi sebelum memutuskan untuk menelpon driver sekolahnya.
Anak-anak kala itu memang saya ikutkan antar jemput sekolah. Karena sebagai orang baru di kota SMG, saya belum begitu mengenal medan. Di tambah lagi Abinya anak-anak ada kelas magister di setiap malamnya. Anak saya 2 orang yang sudah SD, dan dua-duanya sebenarnya tidak begitu suka naik antar jemput. Seringkali mereka berdua mengajukan proposal agar Abinyalah yang mengantar ke sekolah dan saya  yang menjemput sepulangnya.

Selasa, 02 April 2013

Ini Saru Lho Mi...


Dengan penuh percaya diri gadis kecilku Aisyah memberiku suprise, "Ini saru lho Mi..." katanya. Sebari kedua tangannya membentuk isyarat telunjuk di tangan kanan dan bulatan jari telunjuk dan jempol di tangan kiri serta mengarahkannya kesatu arah yang sama.
Jujur saja saya kaget, saya hanya sempat bilang "Oh ya.."Melihat ketidakmengertian saya, Aisyah menambahkan informasinya, dengan tangan kanan dia menambahkan deskripsinya, yaitu memasukkan jempol kanannya diantara sela-sela jari telunjuk dan jari tengahnya yang terkatup rapat.

Gadisku baru kemaren 9th, saya tahu ini adalah usia pra pubertas, menjelang remaja, Tapi saya sungguh tidak menyangka akan secepat ini. Kami memberinya lingkungan yang kondusif dan menyekolahkannya di SDIT dan bukan pula sembarangan IT. Namun begitulah, ternyata meski anak-anak bersekolah di IT itu tidak berarti anak-anak akan terhindar dari informasi-informasi negatif.

Senin, 25 Maret 2013

Mandi Bersama Anak, Mengenalkan Anatomi Tubuh

     Suatu ketika anak gadis saya bercerita. Dia dibawa oleh teman-teman perempuannya ke WC sekolah, jadi ceritanya ini rombongan ke WC. Anak saya kala itu terhitung anak baru, dia bilang ,"Uni dipaksa Mi."
Ceritanya sesampai di WC, mereka ber-5 masuk dan teman-temannya menunjukkan sesuatu yang membuat anak saya terkejut.
"Coba pegang, ini sakit lho," kata teman-temannya. Dan yang merasa sakit saling menunjukkan diri. Kemudian anak saya yang masih lugu disuruh menekan dada temannya untuk mengetahui ada tonjolan di sana. Kemudian lagi teman-temannya memaksa anak saya menerima perlakuan pemeriksaan anatomi juga di wilayah dadanya dan anak saya menolak, akibatnya ia dimusuhi.

Perempuan itu seperti telur, gampang pecah jika tak hati-hati menjaganya
     Syukurlah saya membiasakan anak-anak untuk bercerita. Tadinya memang dia diam saja, katanya takut nanti dimarahin. Tapi melihat gelagat anak saya yang sedikit berubah maka saya 'nekat' menanyainya. Ditambah lagi karena usianya yang sudah 8 tahun kala itu, saya rasa perlu untuk mengenalkannya dengan pelecehan seksual yang lebih detil.