Laman

Tampilkan postingan dengan label Potret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Potret. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juli 2013

Pilunya Suasana Ramadhan di Lingkungan Sekolah Anakku



Kemaren siang waktu bubaran sekolah, di pagi menjelang siang, semakin banyak saja anak-anak yang berseragam merah putih duduk-duduk di kedai makanan di depan sekolahan. Kedai-kedai itu masih satu lingkungan (komplek) dengan sekolah. Saya hanya melihatnya dari jauh, nelangsa. Dan membawa anak-anak saya kabur dari pemandangan itu secepatnya. Pilu.
Salah persepsikah saya?


          Perkenalkan, saya ini orang Minang, sebuah suku yang menganut prinsip Adat Bersandi Syarak, Syarak Bersandi KitabuLlah. Saya lahir dan besar di ranah Minang, satu-satunya kesempatan saya merambah ranah orang lain adalah ketika saya menikah  hampir 13 tahun yang lalu. 

Meski kondisi alam Minang Kabau terkadang juga jauh dari kondisi Islami, namun ada beberapa poin yang sulit diabaikan, diantaranya adalah bahwa setiap orang di ranah Minang, baik muslim atau bukan, ada kewajiban tidak tertulis untuk menghormati orang berpuasa. Sehingga ketika Ramadhan menjelang, bisa dipastikan suasana puasa akan kental terasa. Jika ada para pedagang yang nekat mengais rezki di siang hari di bulan ini, maka akan ada aturan-aturan yang mengikatnya. 

Jumat, 05 Juli 2013

Itu Belum Seberapa, Masih Ada yang Lebih Parah



repost dari sebuah postingan yang terhapus tanpa sengaja.
          Jum’at sore itu anak perempuan saya pulang tidak di waktu biasanya. Sore itu ia pulang pukul 4 sore kurang beberapa menit. Saya dan Abinya sudah cemas menunggu di teras rumah. Biasanya ia pulang ke rumah paling lambat pukul 3.15 sore. Kami masih menunggu dan memberi jeda beberapa menit lagi sebelum memutuskan untuk menelpon driver sekolahnya.
Anak-anak kala itu memang saya ikutkan antar jemput sekolah. Karena sebagai orang baru di kota SMG, saya belum begitu mengenal medan. Di tambah lagi Abinya anak-anak ada kelas magister di setiap malamnya. Anak saya 2 orang yang sudah SD, dan dua-duanya sebenarnya tidak begitu suka naik antar jemput. Seringkali mereka berdua mengajukan proposal agar Abinyalah yang mengantar ke sekolah dan saya  yang menjemput sepulangnya.