Laman

Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juni 2015

Air dan Minyak

Kemaren di car free day. Ada sekelompok bikers. Keren banget. Pakai helm dan pengaman di lutut, bersepatu, tapi sayang asap rokok mengepul dengan aktif dari mulut mereka. Tak ubahnya sepur uap, berhembus tak henti-henti.
Coba pikirkan. Bukankah bersepeda itu untuk sehat? Terlebih lagi mereka memikirkan faktor keamanan. :(

Sahabat...
Sebenarnya dalam hidup kita juga sering seperti itu.
Kita ingin sehat tapi kita melakukan hal-hal yang senyata-nyata akan merusak kesehatan.
Kita inginkan kebaikan untuk diri tapi kita sengaja memposisikan diri kita di posisi yang berbahaya.
Kita dengan sadar mencampuradukkan, bahkan dengan sengaja mengkombainnya. Kita desain sedemikian rupa sehingga semua terlihat tawazun; seimbang.

Selasa, 27 Januari 2015

Ikuti Bisikan Hatimu!



Meskipun saya terlahir dari keluarga muslim, namun itu tidak berarti saya tahu banyak hal tentang Islam dari keluarga. Yang saya ketahui tak lebih dari sekedar pengertian ibadah secara sempit dan tak lepas dari rukun islam yang 5.
Termasuk hal berhijab. 
Dalam pandangan anak kecil saya kala itu, hijab (dalam hal ini jilbab dan lilik –orang sekarang mengenalnya pashmina) hanya dipakai oleh orang-orang yang menempuh jalur pendidikan agama. Seperti anak-anak MTsN yang biasa berseliweran di jalan di depan rumah saya atau anak-anak PGA seperti halnya kakak perempuan saya. Atau mungkin juga anak-anak yang sekolah di sekolah berasrama putri di Padang Panjang atau IAIN (STAIN sekarang). Jadi ketika melihat mereka saya sempat berfikir bahwa hijab hanya untuk mereka.
Kemudian sebagai nilai religius. Meski saya bersekolah sore di MDA selepas jam belajar SD, hijab hanya sebatas ketika saya ikutan MTQ. Karena semua guru-guru perempuan saya yang nota bene lulusan sekolah agama seperti yang saya uraikan di atas, hanya berselendang. Bahasa Minangnya hanya bertingkuluak. Itu sebagai penanda bahwa kita ini religius.

Sabtu, 01 November 2014

Jodohku, Maunyaku Pilihan-MU


“Bacalah”, guru ngajiku menyodorkan amplop berwarna putih. Jantungku langsung berdetak kencang. Sekilas di sudut amplop terbaca sebuah tulisan ‘Kel. Zainal Lain’. Hatiku langsung berkata, “inikah saatnya?”

“Pelajari dulu, kemudian bicarakan dengan orang tua. InsyaaLlah Sabtu di akhir minggu ini ikhwannya datang ke sini.” Guru ngajiku menjelaskan sambil senyum-senyum. Saya langsung melongo, akhir minggu? Yang benar saja, ini sudah hari Selasa, Sabtu di akhir minggu itu berarti tinggal beberapa hari lagi.

Perasaan saya sedikit gundah, teringat terakhir kali menyodorkan proposal jodoh ini dengan emak saya. Saat itu beliau marah besar, tanpa alasan yang jelas. Usut punya usut ternyata beliau khawatir saya menikah dengan laki-laki yang belum memiliki pekerjaan tetap, apalagi  jika hanya lulusan (maaf ya) IAIN (sekarang namanya STAIN). 

Minggu, 30 Maret 2014

Smart Phone Smart User

"Punya BB, gak?"
Itu bukan pertanyaan yang pertama saya terima. Boleh dikatakan itu adalah pertanyaan yang ke sekian.
Dulu, kala pertama kali mendengar pertanyaan itu saya menjawabnya dengan nyeleneh. 
"Enggak, gak punya, saya rajin mandi kok."
Si penanya bingung. Apa hubungannya BB sama rajin mandi, coba!
"Lagian setiap habis mandi saya pakai deodorant, kok, mana sempat BB."
Bisa ditebak, kan, si penanya mesem-mesem.
"Bukan, bukan itu, BlackBerry, euy ..." ujar si penanya sedikit gondok.


Rabu, 18 September 2013

Syukurilah Apa yang Ada



Saya dulu pernah merasa hampa dengan pernikahan ini. Sehingga saya sering tersenyum geli ketika mendengar betapa orang-orang berharap untuk segera menikah. Lucu sekali, betapa mereka berharap terikat, semantara saya sendiri berharap bisa terbang bebas, begitu dulu pola pikir saya.


Saya menikah karena orang tua ingin saya segera menikah. Kalau boleh jujur, saya belum ingin menikah kala itu. Saya terpesona ketika Bapak sumringah kala lelaki sholeh itu datang. Betapa beliau tidak akan berbahagia, saya belum pernah sekalipun berpacaran. Meski berkali-kali saya menjelaskan, bahwa saya tidak akan pernah berpacaran, tapi beliau berdua tak mengerti juga. 
Menurut orang tua, saya ini ‘mengerikan’ di mata lelaki, buktinya sampai saya 24 tahun,

Kematian Itu Membawa Hidayah



Tak sedikitpun saya menyangka, akan ada sisi positif dari kematian yang menyakitkan itu. Karena berhari-hari hingga berminggu-minggu bahkan bertahun kemudian luka itu masih menganga. Meski berduka dalam diam, tapi saya tahu, tak sepenuhnya kami bisa menerimanya. Selalu saja ada nada-nada tak puas, selalu saja.


21 tahun yang lalu, Jum’at siang menjelang waktu jum’atan.
Suasana di rumah benar-benar mencekam. Seakan-akan ada alarm, bersiap-siaplah, akan ada kematian menghampiri.
Sebenarnya hawa tak menyenangkan itu sudah terasa dari semenjak pagi, ketika kami semua yang masih duduk di bangku sekolah tiba-tiba mendengar raungan Bapak. Itulah kali pertama saya tidak menyukai kaum lelaki menangis. Usut punya usut ternyata kakak sulung kami sudah tidak bisa lagi menelan nasi, bahkan meneguk air walau cuma seteguk. Kami semua tercenung, saling berpandangan dalam diam.
“Sudah...sudah, ayo semuanya berangkat sekolah”, Bapak memberi instruksi. “Sepulang sekolah langsung pulang ya, jangan mampir sana sini”. Bapak menambahkan instruksinya.

Kamis, 01 Agustus 2013

Rindu Ini, Rindu Hutan


 
Tak pernah terpikirkan bahwa akan ada masanya saya benar-benar merindukan ‘hutan’ (tumbuh-tumbuhan yang sangat banyak), mengingat saya ini adalah orang kampung, orang yang terbiasa meniti pematang sawah, berlarian di bebatuan sungai, bermain ayunan di pohon kelapa tumbang yang melintang di tengah sungai, dan setiap hari merasakan sejuknya hehijauan.
Kenapa?
Ternyata, menikah, hijrah dan berpisah dari orang tua, berarti meninggalkan semua suasana ini. Dan itu kini telah terangkai menjadi rindu.

Maharatu, Marpoyan Damai, Pekanbaru, Riau
          “Abi mau kemana?” Hamzahku menangis ketika taxi berhenti di depan rumah. Saya tersenyum geli, padahal tadi sudah dijelaskan bahwa Abinya akan ke Jogja beberapa hari, ada test untuk masuk sekolah lagi. Lelaki kecilku, 5,1 tahun kala itu, berlari sambil menangis ke pelukan Abinya. 

Jumat, 12 Juli 2013

Sorban Putih Bapakku



Alhamdulillah, di usia 9 tahun saya dulu, saya sudah memantapkan pikiran untuk tidak berpacaran dan berfikir bahwa pacaran sebelum menikah itu adalah perbuatan sia-sia.
(Alm) Bapak saya memakai metode dialog dan analisa studi kasus untuk saya, dan itu efektif. Tapi sayang tidak efektif untuk saudara-saudara saya yang lainnya.
Ini bisa dimaklumi, karena ternyata memang beda anak, akan berbeda tipikal dan karakternya dan sudah tentu akan berbeda pula pola pendekatannya. Inilah cerita itu, cerita yang takkan mungkin ku lupa seumur hidupku...

***
"Kalian tau apa ini?" Bapak bertanya sambil memegang sorban putih di tangannya.
Kami semua, berenam bersaudara menjawab bahwa itu adalah sorban.
"Kalian tau apa yang akan terjadi jika sorban ini kalian lumurkan dengan lumpur?"
"Tentu saja sorban itu akan kotor," saya menjawab dengan lantang. Pandangan mata beliau beralih ke saya. Entahlah saya tak tahu kenapa, apa karena saya satu-satunya anak yang berani menatap mata beliau ketika berbicara ataukah karena saya adalah anak yang tanpa rasa takut ketika berbicara dengan beliau?

Jumat, 05 Juli 2013

Nelangsakah Emak-ku?

Coba renungkan, pernahkah ibu kita memiliki pikiran dan perasaan seperti ini?
 
          Dalam perjalanan saya yang baru 37 tahun lebih, saya pernah bertemu seorang ibu. Terus terang ibu itu sering curhat ke saya tentang anak-anaknya. Entah kenapa, mungkin karena saya bisa jadi teman ngobrolnya ataukah karena penampilan luar saya persis sama seperti anaknya yang jauh di rantau sana. 
Setiap ibu itu curhat sebenarnya saya bisa langsung tahu arah pembicaraannya. Sudah bisa dipastikan, takkan jauh-jauh dari masalahnya dengan anak-anaknya. Sekalipun di awal-awal kami akan bercerita yang lain, tapi ujung-ujungnya si ibu akan menyempatkan curhat.

         

Selasa, 23 April 2013

Sekali Merengkuh Dayung di Celebrating Journey to Motherhood


Minggu tanggal 14 April kemarin sebenarnya adalah hari yang saya tunggu-tunggu. Seminggu sebelumnya saya sudah mempersiapkan diri untuk mengisi akhir minggu di tanggal tersebut. Segala sesuatunya sudah saya rancang. Saya ngebet banget pengen gabung di kopdar IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) Semarang, yang rencana awal dilaksanakan di rumah Mbak Uniek Kasgarwati. Ini kopdar pertama saya, mana jadwalnya belajar ngeblog lagi. 

Persiapan terpenting itu adalah tentang 3 anak saya, bagaimana jika saya pergi mengisi akhir minggu, mereka dibawa atau ditinggal. Berhubung rumah Mbak Uniek-nya jauh di belakang Lotte Mart sana dan saya yang masih buta Semarang, rencana awal ketiga anak saya ditinggal dengan Abinya di rumah. 
Eh dipertengahan minggu menjelang hari-H ternyata anak mertua saya ada acara. Bagaimana ini? Gak mungkin dibawa dong, kan jauh, mana anak-anak saya pada ogah naik taxi kecuali si bungsu Fathimah. Dan tak mungkin pula ketiganya dibawa oleh anak mertua saya. Belum apa-apa, Beliaunya sudah cemas duluan. Hehehe mungkin membayangkan bakal menenteng 3 anak sekaligus, karena gak mungkin ditinggal bertiga saja di rumah, bukan? Sepertinya saya terpaksa ngalah nih, demi anak, mau bagaimana lagi.

Rabu, 20 Maret 2013

Rasa itu Tumbuh Alami Bersama IIDN

    Saya tak menyangka kerikil-kerikil kecil di perjalanan justru membuat cinta saya tertambat, tumbuh dan berkembang alami pada IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis). Sekarang saya mulai enjoy di sini. Duluu...entahlah.
Kisah ini bermula pada suatu ketika di 9 Januari 2013 seorang teman yang sudah belasan tahun tidak ketemu -Yulva Armadani - mengajukan pertanyaan aneh di inbox Face Book-ku.
 "Assalamu'alaikum, En...mau dicemplungin ke grup-nya Ibuk-ibuk muslimah hebat gak?", kira-kira begitu saduran ke bahasa nasional kita. Pakai disadur ya? Hahaha...ya iya lah, soalnya saya dan Yulva Armadani ini sama-sama orang Minang yang ada di rantau, sehingga terkadang sahut-sahutan di FB-nya pakai bahasa Minang.
"Va suka baca tulisannya Eni", tambahnya. Yee...ketahuan nih, ini salah satu silent reader-ku.
Kala itu di FB saya sedang memposting berseri tentang penerimaan utuh terhadap pasangan. Memang saya selama ini menjadikan FB sebagai tempat mencurahkan isi kepala. Namun terkadang saya merasa bosan, tapi demi meluruskan niat ikut FB-an saya beberapa  kali mencoba mengalahkan rasa bosan. Gak enak banget rasanya duduk memelototi berbagai macam postingan yang seringkali ga-je ; gak jelas arahnya.

Jumat, 22 Februari 2013

Panggil Aku...Ninie

Diperjalan yang baru 37 tahun ini aku sudah mengalami pergantian nama berkali2.
     Aku terlahir 37 tahun yang lalu dengan nama Fetri Eni. Sampai saat ini aku tidak tahu arti nama ini. Menurut Emak karena aku lahir di bulan Pebruari. Itu saja. Sedari kecil aku berfikir kenapa aku tidak diberi nama yang lain ya, yang terlihat keren seperti nama teman2 SD kelas 1 ku yang lain. Seperti nama Yulia Arisandi, Dona Alminora. Di mata kanak2ku nama2 tersebut terlihat keren. Ditambah lagi sebagai anak ke-5 dari 6 bersaudara, kakak2ku suka mengolok2 dengan memanggilku Pepet. Kesannya gimana gitu. 
Aku jadi teringat nama panggilan seorang teman TK; T*t*t. Karena anaknya sedikit nakal, mulutnya lancang aku jadi ogah dipanggil begituan. O ya, nama2 lengkap teman TK aku malah tidak ingat satupun, karena kami hanya 1 tahun di sekolah yang sama. Kalaupun akhirnya aku tahu nama lengkap mereka, itu karena kemudian takdir membuat kami bersekolah di tempat yang sama. Seperti MDA, sebuah sekolah sore di luar SD yang ku ikuti selama 4 tahun, berada di satu  SMP bahkan satu SMA.
Kembali ke namaku ya, di kelas 1 SD Ibu Jus -guru kelas 1 ku- mengubah namaku menjadi Fitri Eni. Aku senang sekali, kesannya nama ini lebih manis. Aku suka menghubungkannya dengan Hari Raya Idul Fitri, aku bangga namaku di ganti.

Tetapi dalam pergaulan keseharian baik di rumah maupun di lingkungan aku biasa di panggil Ninie. Nah, sejarah nama ini Emak-ku tahu ketika ku tanya kenapa. Beliau bilang nama itu dari Bapak, karena aku punya