Laman

Tampilkan postingan dengan label Belajar dari Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar dari Alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juni 2015

Air dan Minyak

Kemaren di car free day. Ada sekelompok bikers. Keren banget. Pakai helm dan pengaman di lutut, bersepatu, tapi sayang asap rokok mengepul dengan aktif dari mulut mereka. Tak ubahnya sepur uap, berhembus tak henti-henti.
Coba pikirkan. Bukankah bersepeda itu untuk sehat? Terlebih lagi mereka memikirkan faktor keamanan. :(

Sahabat...
Sebenarnya dalam hidup kita juga sering seperti itu.
Kita ingin sehat tapi kita melakukan hal-hal yang senyata-nyata akan merusak kesehatan.
Kita inginkan kebaikan untuk diri tapi kita sengaja memposisikan diri kita di posisi yang berbahaya.
Kita dengan sadar mencampuradukkan, bahkan dengan sengaja mengkombainnya. Kita desain sedemikian rupa sehingga semua terlihat tawazun; seimbang.

Selasa, 03 Februari 2015

Jilbab Tumbung Beruk


Pada masa yang telah berlalu di rumah orang tua tempat saya dibesarkan, jika ada yang disuruh melakukan sesuatu dan tidak selesai-selesai pekerjaan itu dalam waktu yang lama, maka bapak saya akan mengatakan, “Ha..lah bakukuak pulo anjiang dek manunggu.” (B.Ind. : Sudah sampai berkokok pula anjing selama menunggu).

Atau ketika ada yang  disuruh untuk menjemput sesuatu namun tak kunjung kembali maka bapak saya akan mengatakan, ”Bak manyuruah kuciang manjapuik api.” (B. Ind. : Seperti meminta kucing mengambil api)

Atau ketika ada yang susah payah menyuruhnya melakukan sesuatu seperti susah menyuruh mandi, maka bapak saya akan mengatakan, “Alah badaun muluik, tapi bak manyuruah kambiang mandi.” (Sudah banyak nasehat namun seperti membawa kambing ke air)

Selasa, 27 Januari 2015

Ikuti Bisikan Hatimu!



Meskipun saya terlahir dari keluarga muslim, namun itu tidak berarti saya tahu banyak hal tentang Islam dari keluarga. Yang saya ketahui tak lebih dari sekedar pengertian ibadah secara sempit dan tak lepas dari rukun islam yang 5.
Termasuk hal berhijab. 
Dalam pandangan anak kecil saya kala itu, hijab (dalam hal ini jilbab dan lilik –orang sekarang mengenalnya pashmina) hanya dipakai oleh orang-orang yang menempuh jalur pendidikan agama. Seperti anak-anak MTsN yang biasa berseliweran di jalan di depan rumah saya atau anak-anak PGA seperti halnya kakak perempuan saya. Atau mungkin juga anak-anak yang sekolah di sekolah berasrama putri di Padang Panjang atau IAIN (STAIN sekarang). Jadi ketika melihat mereka saya sempat berfikir bahwa hijab hanya untuk mereka.
Kemudian sebagai nilai religius. Meski saya bersekolah sore di MDA selepas jam belajar SD, hijab hanya sebatas ketika saya ikutan MTQ. Karena semua guru-guru perempuan saya yang nota bene lulusan sekolah agama seperti yang saya uraikan di atas, hanya berselendang. Bahasa Minangnya hanya bertingkuluak. Itu sebagai penanda bahwa kita ini religius.

Selasa, 28 Oktober 2014

Sebuah Pengantar # Ketika Anak Bertanya

Semenjak anak-anak saya bisa berbicara, pertanyaan mereka adalah makanan saya sehari-hari. Mau mereka sakit, mau lagi sehat, selalu ada tanya. Ibarat kata pertanyaan mereka tidak mengenal musim atau cuaca. 
Sejujurnya saya senang jika mereka masih bertanya, bagi saya itu pertanda bahwa kincir-kincir mereka jalan. Bahkan saya memang sengaja merangsang mereka untuk bertanya.

Cara yang saya lakukan untuk merangsang itu adalah dengan mempertajam komunikasi, saya pancing-pancing, saya bacakan buku, saya gantung-gantung bacaannya, saya bikin mereka penasaran, apa saja yang akhirnya mereka akan bertanya apa ini, apa itu, kenapa begini, kenapa begitu. 
Saya ingin anak-anak saya merasakan bahwa saya mendengarkan mereka kapanpun mereka ingin bercerita atau bertanya Saya ingin merasakan kedekatan bathin dengan mereka. Maka bercerita dan merangsang mereka bercerita adalah salah satu pilihan saya.
Untuk hal ini saya cukup terinspirasi dari kisahnya Tracy Hogg sendiri pada bukunya Secret of Baby Wishperer, dengan judul yang sama dalam edisi bahasa Indonesia. Berbicara, bercerita itu bisa mengendalikan kebosanan anak; tegasnya kegiatan ini bisa menjinakkan mereka.

Jumat, 17 Januari 2014

Madu Asli yang Memancing Air Mata

  Madu asli itu adalah yang apabila ia dibawa pulang ke rumah maka istri di rumah akan mengamuk-ngamuk, atau membanting peralatan dapur atau meninju-ninju dadanya, atau menjambak-jambak rambutnya, atau mungkin menangis sesegukan bahkan meraung-raung.


Siapa yang belum kenal madu? Siapa yang tidak suka madu? Atau siapakah yang belum tahu khasiat madu? Saking istimewanya bahkan nama  hewan yang memproduksi madu namanya diabadikan menjadi nama sebuah surat dalam Al Qur-an, An-Nahl.
sumber: http://info-peternakan.blogspot.com

Saya tidak sedang ingin menceritakan surat An-Nahl (lebah), namun saya sedang ingin berbagi cerita tentang defenisi madu asli.


Madu Asli
 
Selama ini saya berfikir bahwa madu asli itu adalah madu lebah yang tidak tercampur dengan zat-zat lain.
Dulu, di masa kanak-kanak saya, karena seringnya melihat orang-orang yang mencari madu liar dari pohon ke pohon, saya jadi berfikir bahwa madu asli itu adalah madu yang diturunkan dari pohon, tanpa campuran sedikitpun.